Pacaran yang benar

Yang namanya remaja , kalau sudah mengenal lawan jenis dalam arti “pacaran”, wahhh kayaknya berubah total. Baik itu perubahan positif bahkan perubahan negatif. Tujuan pacaran sebenarnya untuk mengetahui dan mengenal pasangan supaya jangan sampai salah pilih untuk dijadikan teman hidup. Tapi kenyataannya justru pacaran hanya dijadikan sebagai arena bersenang senang. Ujung ujungnya…”MBA”.

1005-035-04-10791

Sebenarnya pacaran sehat itu apa sih? Dan , gimana cara “mengendalikan” pacaran supaya tetap berjalan pada koridor yang ada. Karena walaupun tidak ada Undang Undang berpacaran, tapi ada aturan aturan yang tidak tertulis di masyarakat yang harus kita patuhi. Itulah tema Dapur Dangdut pagi ini yang mencoba mencari cara pengendalian diri itu agar hubungan “pacaran” menjdi sehat. Sms nya yang bergabung hanya sekitar 80 sms. Ada beberapa sms yang aku pikir lumaya, “Nurohmah disako sbgai orang tua kita harus memberi kebebasan pada anak2 kita dlm memilih pasangan tapi jgn lupa kita kasih pengertian nasehat dan tetap h arus kita pantau agar jgn sampai salah jalan dlm bergaul”. Benar, kita sebagai anak memang membutuhkan kebebasan, tapi sejauh mana si anak yang sedang “dimabuk cinta” itu bisa bertanggung jawab terhadap kebebasan itu. Karena terkadang kalau sudah berdua dengan sang pacar, suka lupa akibat. “Menurut saya,harus bs jaga jarak sm pasangan,jgn trlalu sering brdua pd t42 yg sepi,bwa enjoy n brcnda brsama teman2 aj. Mita di Plaju”, sms yang satu ini juga masuk akal, jangan ke tempat sepi berdua, karena walaupun tujuan utamanya ga akan ngapa ngapain, TAKUTNYA….tergoda juga, he…he…he…. Itu sebagian dari sms, kalau yang gabung lewat telpon, aku lebih tertarik sama komentarnya Ine, katanya “Kalau pergi berdua dengan pacar jangan melebihi waktu yang di targetkan, saling menjaga, saling mengingatkan”. Singkat sih, tapi itu adalah komentar orang yang lagi jatuh cinta. Biasanya “si pecinta” itu akan selalu mengatakan “ya” demi orang yang di cintainya. Untuk orang yang sudah dewasa, akan lebih bisa mengendalikan diri, paling tidak dia sudah bisa mempertanggungjawabkan apa yang di perbuatnya, tapi kalau untuk para remaja, kayaknya harus banyak pengawasan orang tua, karena biasanya hanya emosi saja yang bicara. Mudah mudahan dengan tema ini, setidaknya akan mengurangi jumlah MBA, karena bisa saja orang orang itu belum siap berkeluarga, dan hanya terpaksa menikah karena dah terlanjur “tekdung”…(Ranie)

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: