Maukah hidup di zaman dulu?

Hemh laper….. tapi kalau udah ambil nasi, pasti disisain…… kadang dimarah kalau ketauan ortu nasi yg mau kita makan ada yg bersisa, karena sekarang kita sudah hidup di zaman yg bisa dikatakan serba enak yg sudah serba ada, tapi masih bisa membuang2 makanan yg jelas2 memang menjadi makanan pokok untuk kehidupan sehari hari. Jika harus flashback ke zaman ortu kita dulu, yg sangat sulit sekali untuk mendapatkan beras, bahkan untuk mempertahankan hidup harus ada makanan pengganti yaitu jagung, singkong, uni, kentang, dll. Karena zaman dulu belum ada beras & itulah makanan pokok mereka. tapi terbukti, sampai sekarang mereka masih tetap hidup walaupun makanan pokok mereka bukan nasi.

Tapi kenapa orang indonesia masih mengandalkan dan membiasakan diri makan nasi?

padahal masih banyak sumber makanan pokok lain yang bisa dimanfaatkan sebagai mekanan pengganti beras dan mudah dalam produksi serta penanamannya. lihat saja singkong yang berlimpah dan mudah ditanam serta harganya yang murah meriah. beras yang jumlahnya terbatas serta sulit untuk diproduksi menyebabkan harganya yang kian lama kian melambung.

Dan ketika saya tanyakan kepada pendengar berkaitan tentang kenaikan harga beras yg perkarung yg isinya 20kg kenaikkannya berkisar dari Rp. 2000,- sampai Rp. 3.500,-. Seandainya kita kembali lagi ke zaman dulu yg sangat sulit sekali untuk mendapatkan beras karena langka dan harganya mencuat tinggi,  mengharuskan kita untuk menyantap makanan yg ada diantaranya makanan pengganti yaitu jagung, ubi, kentang & singkong. Mau atau tidakkah kembali ke zaman dulu untuk memakan makanan tsb?

“Yang jelas hidup kita sekarang tidak seperti zaman2 dulu, jadi jangan dilupakan makanan pengganti itu & tentu saja tetap dinikmati, karena makanan desa harus dihargai. Menurut pendapat saya tentang beras mahal itu harus mahal.kita yg dikota maunya murah tidak tau petani  disana sekian bulan baru pegang duit. Seharusnya jagung ubi juga harus mahal. biar ada pemerataan karena petani juga mau punya uang. Kita yg dikota tanpa pak petani gak bisa hidup. Tanpa petani kita semua kelaparan” itu menurut mas ridi salah satu perwakilan pendapat dari teman dangdut

sebaiknya kita jangan terlalu membiasakan diri dan bergantung pada satu jenis makanan pokok saja. kita harus membuat menu makan kita berbeda-beda dengan berbagai metode penyajian / resep. jadi ketika beras langka dan menjadi mahal, masyarakat tidak akan terpengaruh karena bisa makan ubi, jagung, singkong, kentang, dsb.

mulailah dari diri sendiri untuk tidak ketergantungan dan ketagihan makan nasi.  jika harga beras naik maka kita pun tidak akan banyak terpengaruh karena kita bisa makan yang lain. ketika yang lain juga naik, makan yang lainnya lagi, begitu seterusnya.

(VIANA)

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: